Memerdekakan Pendidikan di Indonesia
Oleh Eva Rahmawati
Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) seharusnya, menjadi hari yang bermakna bagi dunia pendidikan karena tanpa adanya hari pendidikan nasional berarti Indonesia tidak mempunyai sejarah dalam memperjuangkan pendidikan di Indonesia. Hari Pendidikan Nasional merupakan momen yang bersejarah karena dari tanggal 2 Mei lahirlah seorang pahlawan yang berjuang memerdekakan Indonesia lewat pendidikan tanpa saling memandang status sosial demi memajukan kehidupan masyarakat agar dapat bersaing dengan bangsa lain.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya, dapat kita rayakan dan kita rasakan bagaimana perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan pendidikan di Indonesia, seperti halnya pada saat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang selalu dirayakan oleh masyarakat dari semua kalangan dan dimeriahkan dengan berbagai perlombaan. Namun, hal ini tidak serupa dengan perayaan hari pendidikan nasional karena hal ini tidak dapat dirasakan oleh semua kalangan karena hari pendidikan nasional hanya dirayakan bagi dunia pendidikan saja. Namun, apakah perjuangan dalam memerdekakan pendidikan ini masih berlanjut? mengingat masih banyaknya sekolah terpencil yang jauh dari kata nyaman.
Indonesia memang kaya akan sumber daya alam. Namun, hal ini tidak sebanding dengan keadaan pendidikan di Indonesia dalam mencetak lulusan yang kaya akan potensi dalam menghadapi persaingan dunia. Hal ini dikarenakan masih banyaknya permasalahan yang bersumber dari dunia pendidikan. Pertama, keadaan bangunan sekolah yang tidak lagi aman karena keadaan fondasi yang sudah reot, atap bocor sehingga rentan ambruk terhadap cuaca buruk. Inilah yang menjadi akar permasalahannya, yaitu tidak adanya tempat yang layak untuk proses belajar mengajar, biasanya masalah ini dialami daerah-daerah pelosok dan terpencil karena jangankan untuk fasilitas yang memadai tempat yang layak untuk menampung siswa saja tidak ada, hingga akhirnya, demi keinginan untuk belajar yang kuat mereka terpaksa menggunakan tempat-tempat yang sudah tidak digunakan dan fasilitas yang ala kadarnya saja dengan menggunakan jasa seorang guru relawan.
Kedua, yaitu sarana dan fasilitas yang minim, baik sarana tranportasi untuk mengakses ke sekolah yang berada di daerah terpencil maupun fasilitas yang dapat menunjang proses belajar mengajar seperti buku pelajaran, bangku, dan sebagainya. Permasalahan tetang minimnya fasilitas memang sudang menjadi cerita klasik yang tidak pernah ada ujung penyelesaiannya, hal ini yang menjadi alasan dari pertanyaan mengapa Indonesia masih miskin ilmu pengetahuan? Jadi, jangan sampai permasalahan di atas dapat menyurutkan semangat belajar bagi anak-anak bangsa.
Pemerintah harus bersikap adil dalam memperhatikan pendidikan, mungkin bagi sekolah yang berada di ibu kota atau daerah-daerah yang sudah maju dalam fasilitas dan layanan masyarakat, sekolah yang beratap bocor dan fasilitas yang minim akan lebih mudah tertangani karena mudah dijangkau baik secara ekonomi maupun lokasinya. Pemerintah jangan hanya mementingkan keadaan sekolah di kota-kota besar saja, karena anak-anak bangsa bukan hanya di kota-kota besar saja tapi masih banyak anak-anak yang tinggal di daerah pelosok Indonesia yang harus mencari dan mendapatkan ilmu untuk bekal hidup mereka, yang jika kita olah dan di didik maka akan menghasilkan lulusan yang baik pula. Pemerintah harus menghapus alasan-alasan yang dapat menghalangi majunya pendidikan Indonesia dengan berdalih lokasinya tidak terjamah akhirnya sulit dijangkau. Namun jika kita mau berubah dan ingin merubahnya maka jalan apapun pasti akan dapat kita tempuh. Jika menurut saya, Hari Pendidikan Nasional tidak usah dirayakan dengan meriah, mengingat masih banyaknya sekolah yang masih jauh dari kata ideal sebagai tempat menimba ilmu dan dikatakan belum merdeka karena masih minimnya sarana dan fasilitas.
Namun, hari tersebut dapat kita gunakan sebagai hari pengintropeksian diri bagi kita sebagai seseorang yang berpendidikan. Kita sebagai seorang pelajar yang bersekolah di sekolah yang memiliki sarana dan fasilitas lengkap, canggih dan modern harusnya kita merasa bersyukur dan mengamalkan ilmu-ilmu itu dengan sebaik-baiknya karena tidak semua orang dapat belajar seperti kita. Kita harusnya merasa malu karena kita telah menyia-nyiakan ilmu yang kita dapat. Merusak fasilitas sekolah padahal ada yang lebih memerlukan fasilitas itu, membuang-buang waktu belajar dengan membolos, nongkrong, dan tawuran, padahal ada anak-anak bangsa yang lebih mengnginkan waktu belajar yang lama mereka rela kepanasan dan kehujanan. Ya, merekalah anak-anak bangsa yang tidak pernah mengeluh yang ada dalam benaknya adalah “saya pengen sekolah”.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya, dapat kita rayakan dan kita rasakan bagaimana perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan pendidikan di Indonesia, seperti halnya pada saat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang selalu dirayakan oleh masyarakat dari semua kalangan dan dimeriahkan dengan berbagai perlombaan. Namun, hal ini tidak serupa dengan perayaan hari pendidikan nasional karena hal ini tidak dapat dirasakan oleh semua kalangan karena hari pendidikan nasional hanya dirayakan bagi dunia pendidikan saja. Namun, apakah perjuangan dalam memerdekakan pendidikan ini masih berlanjut? mengingat masih banyaknya sekolah terpencil yang jauh dari kata nyaman.
Indonesia memang kaya akan sumber daya alam. Namun, hal ini tidak sebanding dengan keadaan pendidikan di Indonesia dalam mencetak lulusan yang kaya akan potensi dalam menghadapi persaingan dunia. Hal ini dikarenakan masih banyaknya permasalahan yang bersumber dari dunia pendidikan. Pertama, keadaan bangunan sekolah yang tidak lagi aman karena keadaan fondasi yang sudah reot, atap bocor sehingga rentan ambruk terhadap cuaca buruk. Inilah yang menjadi akar permasalahannya, yaitu tidak adanya tempat yang layak untuk proses belajar mengajar, biasanya masalah ini dialami daerah-daerah pelosok dan terpencil karena jangankan untuk fasilitas yang memadai tempat yang layak untuk menampung siswa saja tidak ada, hingga akhirnya, demi keinginan untuk belajar yang kuat mereka terpaksa menggunakan tempat-tempat yang sudah tidak digunakan dan fasilitas yang ala kadarnya saja dengan menggunakan jasa seorang guru relawan.
Kedua, yaitu sarana dan fasilitas yang minim, baik sarana tranportasi untuk mengakses ke sekolah yang berada di daerah terpencil maupun fasilitas yang dapat menunjang proses belajar mengajar seperti buku pelajaran, bangku, dan sebagainya. Permasalahan tetang minimnya fasilitas memang sudang menjadi cerita klasik yang tidak pernah ada ujung penyelesaiannya, hal ini yang menjadi alasan dari pertanyaan mengapa Indonesia masih miskin ilmu pengetahuan? Jadi, jangan sampai permasalahan di atas dapat menyurutkan semangat belajar bagi anak-anak bangsa.
Pemerintah harus bersikap adil dalam memperhatikan pendidikan, mungkin bagi sekolah yang berada di ibu kota atau daerah-daerah yang sudah maju dalam fasilitas dan layanan masyarakat, sekolah yang beratap bocor dan fasilitas yang minim akan lebih mudah tertangani karena mudah dijangkau baik secara ekonomi maupun lokasinya. Pemerintah jangan hanya mementingkan keadaan sekolah di kota-kota besar saja, karena anak-anak bangsa bukan hanya di kota-kota besar saja tapi masih banyak anak-anak yang tinggal di daerah pelosok Indonesia yang harus mencari dan mendapatkan ilmu untuk bekal hidup mereka, yang jika kita olah dan di didik maka akan menghasilkan lulusan yang baik pula. Pemerintah harus menghapus alasan-alasan yang dapat menghalangi majunya pendidikan Indonesia dengan berdalih lokasinya tidak terjamah akhirnya sulit dijangkau. Namun jika kita mau berubah dan ingin merubahnya maka jalan apapun pasti akan dapat kita tempuh. Jika menurut saya, Hari Pendidikan Nasional tidak usah dirayakan dengan meriah, mengingat masih banyaknya sekolah yang masih jauh dari kata ideal sebagai tempat menimba ilmu dan dikatakan belum merdeka karena masih minimnya sarana dan fasilitas.
Namun, hari tersebut dapat kita gunakan sebagai hari pengintropeksian diri bagi kita sebagai seseorang yang berpendidikan. Kita sebagai seorang pelajar yang bersekolah di sekolah yang memiliki sarana dan fasilitas lengkap, canggih dan modern harusnya kita merasa bersyukur dan mengamalkan ilmu-ilmu itu dengan sebaik-baiknya karena tidak semua orang dapat belajar seperti kita. Kita harusnya merasa malu karena kita telah menyia-nyiakan ilmu yang kita dapat. Merusak fasilitas sekolah padahal ada yang lebih memerlukan fasilitas itu, membuang-buang waktu belajar dengan membolos, nongkrong, dan tawuran, padahal ada anak-anak bangsa yang lebih mengnginkan waktu belajar yang lama mereka rela kepanasan dan kehujanan. Ya, merekalah anak-anak bangsa yang tidak pernah mengeluh yang ada dalam benaknya adalah “saya pengen sekolah”.
0 komentar:
Posting Komentar